Telkom Speedy


"Broadband" Layanan Baru Operator "Fixed" , KECENDERUNGAN dunia telekomunikasi layanan tetap (fixed) mengarah ke jaringan nirkabel (wireless) dipastikan tidak akan mematikan bisnis jaringan kabel (wired) yang sudah dijalani sejak akhir abad ke-19 lalu. Apalagi kenyataannya di dunia, jaringan kabel sudah tergelar untuk sekitar 1 miliar satuan sambungan telepon atau SST yang tidak bisa begitu saja dikesampingkan, lalu diganti oleh jaringan nirkabel yang murah dan andal.Di lain pihak, pertumbuhan teknologi kabel memang sangat lambat, kecepatannya jauh tertinggal oleh nirkabel yang boleh dikata setiap minggu muncul teknologi ikutan yang baru. Ketika teknologi nirkabel dalam bentuk seluler muncul pada dekade 80-an, hal itu tak ada pengaruhnya pada bisnis wired dan hingga akhir dekade 90-an perkabelan masih jadi referensi bagi mutu seluler. Orang akan selalu mengatakan, mutu suara seluler mendekati layanan jaringan kabel untuk menekankan betapa seluler sudah makin "bening" suaranya.Kini penyampaian penilaiannya berubah jauh karena mutu seluler bahkan sudah mampu melampaui kabel, baik dalam tampilan suara maupun kemampuan menghantar data. Utamanya dengan masuk ke generasi 3 (3G) yang di GSM masih dalam perjalanan mendekati 3G, sementara di CDMA 2000 boleh dikata sudah masuk.Lewat CDMA 2000-1X EVDO (evolution data only) atau EVDV (evolution data and video), CDMA 1X berkemampuan sampai 2,4 Mbps dan 3 Mbps. Karena itu, kata Direktur Bisnis Jasa PT Telkom Suryatin Setiawan dua pekan lalu, fixed line tak lagi superior terhadap layanan nirkabel.Jaringan kabel superior terhadap wireless kalau dia broadband, pita lebar. "Kalau layanannya biasa-biasa saja, plain old telephone service (POTS), jaringan kabel kalah dibandingkan dengan seluler," kata Suryatin.POTS adalah layanan yang hanya bisa untuk suara dan juga mungkin dengan faksimile atau Internet kecepatan sangat rendah, seperti yang disajikan PT Telkom dan banyak operator dunia saat ini. Akan tetapi, kata orang, layanan POTS sudah memenuhi standar ISO, iso muni (bisa bunyi).Mempertahankan layanan POTS di jaringan kabel akan membuat pelanggan kecewa, apalagi kebutuhan akan akses data, bahkan layanan three in one makin dicari masyarakat. Layanan "3 in 1" sudah bisa dinikmati sejak akhir abad ke-20 dengan fiber to the home (FTTH), yaitu layanan sekaligus telepon suara (voice), televisi, dan Internet kecepatan tinggi.Namun, FTTH mensyaratkan penggunaan serat optik dari sentral sampai ke rumah-rumah, dan dewasa ini biaya penggelaran serat optik masih cukup mahal. Untuk layanan "3 in 1" tadi, jaringan kabel tembaga yang sudah tergelar sejak lama ke rumah-rumah atau kantor tidak bisa digunakan lagi dan harus diganti oleh serat optik.Jaringan kabel tembaga, nalarnya, tidak mungkin ditinggalkan begitu saja karena dianggap usang. Apalagi di Indonesia, misalnya, jaringannya sudah mencapai hitungan bagi sembilan juta pelanggan yang untuk menggantinya dengan serat optik untuk jumlah sama butuh modal besar.Kecenderungan operator telekomunikasi fixed dunia saat ini adalah mereka tetap memanfaatkan jaringan kabel tembaga yang ada, tetapi meningkatkan kemampuannya menjadi layanan pita lebar (broadband). Memang tidak akan sebanding dengan kemampuan serat optik yang bisa sampai 2 mega. Akan tetapi, menurut Suryatin, dengan teknologi asymetric digital subscriber line (ADSL), kemampuannya mulai 386 kbps sampai 1,5 Mbps.Layanan broadband mau tak mau harus diberikan oleh operator telekomunikasi incumbent-yang diartikan sebagai pemain lama-jika tidak ingin ditinggalkan pelanggannya. Operator telepon tidak dapat berkelit sebab persaingan akan makin tajam, dengan makin meningkatnya kebutuhan pelanggan yang juga dipicu oleh maraknya persaingan antaroperator.Layanan pita lebar itu sendiri menjadi beraneka ragam, yang kalau diberikan di atas kabel tembaga harus menggunakan teknologi ADSL. Saat ini penyedia perangkat dan teknologi ADSL besar di dunia adalah Alcatel (Perancis) dan Siemens (Jerman).Kalau di apartemen atau perumahan butuh layanan kabel televisi, operator dapat memberikannya dengan hybrid fiber coaxial (HFC), yang sekaligus memberi layanan kabel televisi, telepon (suara), dan Internet. "Operator juga harus bisa memberi layanan nirkabel lewat CDMA 2000-1X, yang kalau jaringan stabil kapasitasnya bisa sampai 60 kbps," ujar Suryatin.Pola perubahan mengikuti tren ini sudah ada, bahkan ada operator yang sudah mengimplementasikan layanan CDMA 2000-1X EVDO dan EVDV. "Mengikuti tren ini, operator kabel harus segera memosisikan diri sebagai broadband provider," kata Suryatin.Ahlinya "indoor"Meningkatnya kemampuan nirkabel lewat layanan seluler membuat posisi masing-masing, seluler atau fixed line, makin terpisah jelas. Telekomunikasi fixed, seperti PT Telkom saat ini, mau tak mau "mempersempit" layanannya menjadi hanya di dalam rumah (indoor).Sementara itu, untuk outdoor memang seluler menjadi ahlinya sesuai dengan kemampuan dan jenisnya. Akan tetapi, begitu masuk rumah, seluler merupakan bagian operator fixed. Karakteristik seluler yang outdoor adalah pendek-pendek, tergesa-gesa, dan terminalnya kecil.Layanan outdoor dan layanan indoor harus sebanding sehingga ketika ada dalam rumah pun, orang dapat menikmati layanan televisi sekelas mutu broadcast. Atau bekerja dengan layanan lebar pita yang cukup. Di Jakarta dan Surabaya, jaringan PT Telkom sudah dapat melayani pelanggannya dengan kapasitas broadband.Bahkan, di Bandara Juanda, Surabaya, ada anjungan Internet mandiri yang memanfaatkan layanan broadband sehingga masyarakat dapat mengakses Internet dengan kecepatan sampai 512 kbps. Layanan ini gratis, selain memberi kemudahan bagi mereka yang sedang bepergian, juga promosi broadband yang jadi mode layanan baru PT Telkom.Munculnya layanan ini membuat sebagian karyawan PT Telkom, yang selama ini merasa tersingkirkan karena badan usaha milik negara (BUMN) itu menggenjot layanan nirkabel TelkomFlexi, merasa lega. Sebelumnya mereka merasa kompetensinya tidak dibutuhkan lagi di PT Telkom. Apalagi mulai tahun 2004 anggaran pembangunan jaringan kabel boleh dikata nol, kecuali untuk menyistemkan jaringan yang sudah ada.PT Telkom pun meluncurkan jargon baru, Jawara, yang artinya "jaringan wajib aku pelihara", yang memaknai keandalan kabel masih dibutuhkan pelanggan. Dengan Jawara, masyarakat pelanggan dijamin akan selalu mendapat layanan yang bagus yang bahkan kalau dibutuhkan, secara selektif, dapat menikmati layanan pita lebar.Lewat Jawara ini ada program peningkatan kompetensi karyawan bagian jaringan, dari sekadar merawat jaringan kabel tembaga POTS menjadi pita lebar. Mereka dididik sehingga dapat menangani teknologi yang lebih canggih lagi, tidak lagi merasa tersingkirkan.Layanan diberikan secara selektif karena semua tergantung dari kondisi teknisnya, baik ukuran kabel maupun jarak dari sentral ke pelanggan. Kabel tembaga diameter besar dan jarak yang pendek ke pelanggan memberi layanan lebih bagus dibandingkan pada jaringan dengan kabel diameter kecil dan jarak di atas 5 kilometer dari sentral.

ZUMA Flash Game