Info Baru CDMA : Code Division Multiple Access


Jakarta - Smart Telecom, operator telekomunikasi berbasis CDMA dari grup Sinar Mas, siap bersaing dengan layanan seluler lainnya. Calon pesaingnya adalah Fren, Esia, dan Telkom Flexi.

Di tengah ketatnya persaingan antaroperator telekomunikasi, PT Sinar Mas Telecommunications atau lebih akrab disebut Smart Telecom akan mencoba peruntungannya dengan menghadirkan layanan seluler berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) dalam waktu dekat ini.

"Kami sudah siap sekali," aku Direktur Smart Telecom, Ubaidillah Fatah, dengan optimisme tinggi saat berbincang-bincang dengan detikINET via telepon, Kamis (30/8/2007).

Untuk tahap awal, Smart nampaknya masih akan coba-coba dulu untuk merebut kue pasar di pulau Jawa. Baru kemudian berani berekspansi ke luar Jawa mulai awal 2008, dimulai dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sedangkan Papua dan Ambon baru akan dipenetrasi awal 2009.

Ubaidillah menyebutkan, kota-kota besar yang akan dilayani pada tahun ini sejak peluncuran perdanananya 3 September 2007 mendatang, antara lain, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang.

Untuk mencakup area tersebut, Smart mengalokasikan belanja modal Rp 3 triliun sampai akhir tahun untuk membangun kurang lebih 600 base transceiver station (BTS) dan sembilan mobile switching center sebagai infrastruktur dasar penunjang telekomunikasi. "Saat ini sudah sekitar 300-350 BTS kami yang on-air. Semuanya pakai teknologi Cina," ujarnya.

Sesuai kewajiban lisensi modern, perusahaan yang dikendalikan Eka Tjipta Widjaja, taipan minyak kelapa sawit yang disebut-sebut sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia itu akan membangun lagi infrastrukturnya menjadi 1300 BTS pada 2008, di mana 200-300 BTS ada di luar Jawa. "Jadi di Jawa akan ada penambahan 500 BTS lagi," kata Ubaidillah. Sementara, alokasi belanja modal yang ditetapkan untuk pembangunan jaringan itu sebesar Rp 2 triliun.

Dengan infrastruktur yang dimilikinya kini, ia mengklaim kapasitas yang sanggup ditampung jaringannya bisa mencapai 1,4 juta pelanggan hingga akhir tahun. "Bisa terpenuhi 60% dari kapasitas atau meraih sekitar 600 ribu hingga 800 ribu pelanggan saja sudah bagus. Namun mulai 2008 mendatang, target pelanggan kami dari Pulau Jawa hanya 60%, sisanya akan kami cari dari luar area tersebut," jelasnya.

Tidak Khawatir

Beroperasi di pita frekuensi 1900 MHz, Smart mengaku tidak khawatir dan mempermasalahkan hal itu, meski perangkat CDMA mayoritas berkiblat pada frekuensi radio 800 MHz seiring ditata ulangnya 1900 MHz yang berakibat pindahnya seluruh layanan di jalur frekuensi tersebut. "Karena sudah banyak yang dual band, kami tidak terlalu khawatir. Lagipula, kami tidak akan jualan handset, hanya fokus menggelar layanan saja," jelas Ubaidillah.

Pun, untuk menarik perhatian pelanggan, ia mengatakan pihaknya akan menawarkan tarif percakapan dengan harga kompetitif, serta layanan komunikasi data dengan kecepatan tinggi versi teknologi CDMA Evolution Data Optimized (EVDO) yang akan hadir selang dua bulan setelah peluncuran perdana.

CDMA EVDO merupakan evolusi dari teknologi CDMA 2000-1X yang dikembangkan oleh vendor jaringan asal Amerika Serikat, Qualcomm Inc. Salah satu kelebihan dari EVDO adalah kecepatan transfer data yang mencapai lebih dari 2,4 mega bit per detik (mbps). Kecepatan transfer data EVDO ini mencapai 37 kali lebih cepat dibandingkan kecepatan transfer data GPRS yang mencapai 64 kilo bit per detik (kbps) dan 12 kali lebih cepat dibandingkan teknologi EDGE 200 kbps.

"Sebagai pemain baru, kami harus punya nilai jual yang berbeda. Hal itu akan kami tekankan dari segi kualitas layanan dan harga. Kami akan head to head dengan Fren milik Mobile-8 yang punya layanan serupa. Tapi dari segi tarif, kami bisa juga bersaing dengan FWA seperti Esia dan Flexi," tandasnya

Ubaidillah berpendapat, investasi di jaringan CDMA bisa lebih murah dari teknologi GSM karena teknologinya datang belakangan dan produsennya sudah mulai banyak, sehingga bisa menawarkan tarif lebih kompetitif. Sementara harga lisensi seluler untuk teknologi CDMA maupun GSM akan tetap sama baik untuk batas atas maupun batas bawah. "Namun kami akan bermain di level batas bawah dalam penarifan ke pelanggan," ujarnya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi, berharap kehadiran Smart akan menambah semarak industri telekomunikasi dan jadi lebih kompetitif. "Sehingga konsumen dapat memilih layanan yang terjangkau dan berkualitas," tandasnya. ( rou / wsh )

ZUMA Flash Game